Jumat, 11 Maret 2011

Banjir bandang yang menerjang Tangse

Banjir bandang yang menerjang Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh meluluhlantakan desa. Ratusan warga di Desa Blang Pandak dan Dusun Sarang Manang hingga kini belum diketahui nasibnya karena akses ke tempat itu terputus.

Warga di pedalaman itu terkepung lantaran satu-satunya akses jalan sudah tergenang air yang cukup tingg. “Beberapa orang yang ingin mengetahui kondisi mereka harus menggunakan ban untuk menyeberang, penuh risiko,” kata Suadi Sulaiman di Tangse, Jumat (11/3/2011).

Desa Blang Pandak, menurut dia, memiliki 1.500 penduduk. Mereka hingga kini tak bisa dievakuasi ke lokasi pengungsian karena derasnya arus sungai sangat berisiko untuk ditembus. Belum diketahui pula mengenai korban tewas.

Usman, warga Desa Alue Jambe, tetangganya Desa Blang Pandak menyebutkan selain jalan tiga jembatan penghubung ke Blang Pandak sudah hancur diterpa air bah. “Jalan sudah menjadi sungai,” kata dia.

Sungai yang menelan jalan desa itu kini makin melebar karena erosi akibat terjangan bandang. Arus sungai kini makin deras dan bergulung-gulung karena hujan diperkirakan masih mengguyur pegunungan di sana, sehingga sulit untuk menembus seberang.

Blang Pandak dan tetangganya Dusun Sarah Manyang termasuk paling parah di landa banjir bandang. Menurut informasi diperoleh Usman, selain menghancurkan ratusan rumah, lumpur dan batang kayu masih memenuhi perkampungan itu. Demikian Catatan Online tentang Banjir bandang yang menerjang Tangse.

Selasa, 08 Maret 2011

Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulbar Hamzah Hapati Hasan

Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulbar Hamzah Hapati Hasan membantah isu perpecahan di kalangan elite DPD I Partai Golkar Sulbar. Dia juga membantah keras rumor bahwa Hamzah tak lagi sejalan dengan Ketua DPD I Anwar Adnan Saleh. Rumor tersebut muncul karena akhir-akhir ini Ketua DPD I Partai Golkar Sulbar Anwar Adnan Saleh sering tampil bersama Suhardi Duka, sedangkan Hamzah jarang dilibatkan. Wajar jika muncul rumor Anwar lebih nyaman bersama Ketua Harian DPD I Partai Golkar Sulbar Suhardi Duka.

“Itu tidak benar sama sekali. Sampai sekarang,saya dan Pak Anwar, serta Pak Suhardi kompak. Segala urusan partai masih kami bicarakan bersama, tidak jalan sendiri-sendiri. Saat ini Pak Anwar sering terlihat jalan bersama Pak Suhardi karena posisi mereka sama-sama di pemerintahan, yaitu gubernur dan bupati,” ungkap Hamzah kemarin. Dia menilai,kondisi itu (Anwar dan Suhardi Duka kompak) justru menguntungkan Golkar. Keduanya adalah kader Golkar dan memegang posisi strategis di kepengurusan.

Untuk urusan eksekutif sesama kepala pemerintahan, memang tidak harus selalu melibatkan legislatif. Disinggung tentang persiapan Partai Golkar Sulbar menghadapi Pilgub Sulbar yang akan berlangsung pada Oktober 2011, dia mengungkapkan,seluruh komponen di Golkar siap dan solid menghadapi pesta demokrasi tersebut, baik secara langsung dipilih masyarakat maupun anggota DPRD.

DPD I Partai Golkar Sulbar tandas Hamzah hampir pasti mengusung Anwar Adnan Saleh. Dari hasil survei, Anwar hingga saat ini masih tetap berada di posisi teratas. Golkar telah melakukan konsolidasi hingga ke tingkat desa. Seluruh komponen Golkar mulai tingkat provinsi hingga desa sudah bekerja demi memuluskan langkah Anwar menjadi Gubernur Sulbar kedua kalinya. Jika tetap memilih langsung, Golkar segera mematangkan persiapan, termasuk penetapan calon wakil gubernur yang akan mendampingi Anwar.

Terkait hal tersebut, Hamzah menjelaskan, calon wakil gubernur akan diumumkan pada April 2011. Jika pemilihan itu di DPRD,akan dikonsolidasikan kembali dengan seluruh pengurus Golkar se-Sulbar dan meminta petunjuk DPP Golkar. “Kekuatan Golkar di DPRD Sulbar mayoritas. Anggota dewan dari Golkar sebanyak 13 orang dari 45 anggota Dewan. Tanpa berkoalisi dengan partai lain, kami sudah bisa mengusung calon gubernur,” pungkas dia. Demikian Catatan Online tentang Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulbar Hamzah Hapati Hasan.

Jumat, 04 Maret 2011

Umurnya 78

Umurnya 78 tahun, tapi Raden Emas Subagdja masih kuat ke sana-sini menyetir sepeda motor.Umur 78 tahun itu hanya di KTP, karena sejatinya usia Emas di atas 80 tahun karena dulu pendataan penduduk belum secanggih sekarang. Orang dulu memang usianya sering direka-reka,biasanya hanya berpatokan pada peristiwa sejarah perjuangan atau kejadian alam seperti gunung meletus. Meski tua, namun pria yang akrab disapa Apa, namun memanggil dirinya Papap itu,masih terlihat sehat.

Ternyata rahasianya adalah olahraga. Waktu muda, Emas menekuni banyak olahraga seperti maraton, sepak bola,dan badminton. Dalam dunia badminton, Emas dibilang punya nama besar.Emas sering mendatangkan pebulutangkis legendaris bermain badminton di Ujungberung seperti peraih All England dan Piala Thomas pertama untuk Indonesia,Tan Joe Hok, serta pebulutangkis tenar lainnya.

Dalam dunia sepak bola, Emas akrab dengan Ramang, salah satu pesepak bola yang membuat timnas Indonesia menjadi “Macan Asia”dan mengundang perhatian dunia sepak bola. Namun, ada satu hal yang tak pernah dilupakan,yakni ketika berjalan kaki dari Sabang sampai Merauke, dari kurun waktu 1957-1961 atau selama empat tahun. Apa yang diakukan Emas adalah peristiwa besar yang tak pernah tersiar. Sebuah peristiwa yang mewarnai sejarah keindonesiaan yang panjang. Kalau berpatokan usia di KTP, Emas mulai jalan kaki dari Sabang-Merauke sejak umur 23 atau 24 tahun.Saat itu,Emas berstatus guru dan mengajar sekolah rakyat di Gang Asmi,Kota Bandung.

Tapi,dia mengajar tak lama karena keburu menjalankan misi jalan kaki keliling Indonesia. Tujuannya hanya satu, yakni mempersatukan Indonesia. Awalnya,dia hanya ingin mempersatukan guru-guru di seluruh Indonesia. Waktu itu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sudah terbentuk,namun kurang dimaknai para guru, sehingga nyaris keberadaannya tidak berpengaruh. “Guru kurang memaknai arti persatuan di PGRI,”kata Emas di rumahnya, Ujungberung, Kota Bandung. Emas mulai berjalan kaki dari Bandung, dimulai di Kantor Kecamatan Ujungberung dilepas istri seorang wedana dan masyarakat.Dari Bandung, Emas berjalan bersama seorang aktivis Ujungberung bernama Den Ii ke Bogor.

Di sana,dia bertemu Presiden Soekarno. Di sana pula Sang Putra Fajarmemberi tugas tambahan kepada Emas,yakni meluluhkan hati para gerilyawan Negara Islam Indonesia (NII) yang dianggap memberontak seperti Kartosuwiryo di Tasikmalaya, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, dan Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan. Emas pun resmi menjadi kurir Soekarno. Dari Bogor, Emas ke Jakarta, lalu menyeberang menggunakan kapal laut ke Sumatera, kembali ke Jawa menyusuri Jawa Tengah dan Timur.Dalam perjalanannya, Emas bertambah teman karena lima orang memiliki visi sama ikut bergabung. Emas didaulat menjadi pemimpin regu.

Di tengah perjalanan,Den Ii memutuskan menghentikan langkahnya di Surabaya karena menemukan jodoh kemudian menikah dan menetap di sana.Emas meneruskan perjalanan ke Bali,Kalimantan,Sulawesi, dan berakhir di Irian Barat. “Saya berhasil berdialog dengan Kartosuwiryo dan Ibnu Hajar,tetapi saya bertemu Kahar Muzakar sudah dalam keadaan meninggal,”tuturnya. Menurut dia,bisa saja pergi ke berbagai tempat itu dengan pesawat terbang atau mobil. “Tapi,saya memilih jalan kaki karena ingin benar-benar bertemu dengan rakyat,” ungkapnya.Satu hal yang membuatnya terus berjalan adalah misi dari Soekarno yang lebih esensial.

“Saya diharuskan bertemu dengan marhaen,”ucapnya. Mau tidak mau, keturunan keluarga menak itu harus menjalani kehidupan sama seperti marhaen atau rakyat jelata.“Saya tidur di hutan, makan daun, daging ular, segala macam.Dulu tidak ada warung pinggir jalan seperti sekarang,”bebernya. Akhirnya, pada 1961,Emas berhasil menyelesaikan perjalanan panjangnya. Emas menghadap Soekarno di Batu Tulis,Bogor,menyampaikan misi sudah selesai.“Kamu belum selesai,”kata Soekarno kepada Emas.“Saya bingung belum selesai apanya,”ujar Emas. Pada kesempatan lain, Emas bertanya lagi kepada Soekarno melalui surat yang dikirim ke Jakarta.

Hingga mangkatnya,Soekarno tidak pernah menjelaskan misi yang belum selesai itu kepada Emas.Belakangan Emas mulai merenungi,“misi belum selesai” yang dimaksud Soekarno itu yakni revolusi dengan tujuan kesejahteraan rakyat. Di usia senjanya, Raden Emas Subagdja masih aktif berbuat untuk masyarakat, khususnya Ujungberung. Demikian catatan online tentang Umurnya 78.
 
 
Copyright © 2015 Catatan Online All Rights Reserved
Hari Agustomo Nugroho