Kamis, 15 Maret 2012

Frekuensi Saling Kunjung Antar Pemimpin

Tingginya frekuensi saling kunjung antar-pemimpin Indonesia dan Republik Rakyat China dalam dua tahun terakhir menjadi cermin hubungan baik kedua negara. Presiden SBY bahkan sudah lima kali ke China sebelum kunjungan resminya 22-24 Maret ini.

Perdana Menteri RRChina Wen Jiabao misalnya, dua kali mengunjungi Indonesia pada tahun 2011 -terakhir pada KTT ASEAN plus di Bali, April silam. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, menurut catatan pemerintah China, bahkan sudah lima kali ke China sebelum kunjungan resminya 22-24 Maret ini.

Belum terhitung, kunjungan kalangan parlemen hingga tokoh masyarakat kedua negara juga menjadi cerminan hubungan baik tersebut. Kedua negara juga saling dukung, berkoordinasi dan bekerjasama dalam menyikapi berbagai isu regional dan internasional.

Hubungan bilateral RI-RR China di berbagai bidang -baik politik, ekonomi, maupun sosial berkembang pesat, terutama sejak Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao di Jakarta April 2005.

Fondasi hubungan kedua negara semakin diperkokoh dengan ditandatanganinya Plan of Action Kemitraan Strategis pada 2010, yang dituangkan dalam komunike bersama Presiden SBY dan PM Wen Jiabao pada tahun 2011 di Jakarta, serta kunjungan Presiden RI ke RR China akhir Maret kali ini.

Duta Besar RI untuk RRChina dan Mongolia, Imron Cotan kepada lima media Indonesia di Kedubes RI di Beijing, Rabu (14/3) lalu, mengungkapkan, kedekatan hubungan kedua negara, juga dicerminkan dengan akan dilakukannya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kedua negara di bidang maritim, bidang narkotika, kerjasama bidang kelautan dan perikanan, bidang kearsipan, bidang statistik serta perpanjangan kerjasama "bilateral swap agreement" antara Bank Indonesia dengan People's Bank of China.

Dalam kesempatan kunjungan ke Beijing kali ini, Presiden RI juga akan dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari universitas Tsinghua (bukan Xinhua), sebuah universitas bergengsi yang pernah melahirkan pemimpin-pemimpin China di Haidian Distrik, Beijing.

Wartawan Kompas Jimmy S Harianto melaporkan dari Beijing, China, Jumat (16/3/2012), Dubes RI Imron Cotan juga mengungkapkan, rincian agenda kunjungan Presiden SBY ke Beijing kali ini serta rencana peresmian Pusat Kajian Bahasa Indonesia di Beijing Foreign Language University oleh Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono, masih menunggu kepastian dari pihak pemerintah RI. Jika pusat kajian bahasa China ini jadi diresmikan, maka ini akan menjadi Pusat Kajian Bahasa Indonesia yang pertama di RRChina.

Kamis, 08 Maret 2012

Keberadaan Pabrik Minuman keras

Keberadaan pabrik minuman keras ditengah pemukiman di Kelurahan Antang, Kecamatan Tamangapa, mulai meresahkan warga. Pasalnya, pabrik yang memproduksi minuman keras golongan B tersebut hanya berada 20 meter dari sekolah dasar (SD) dan tempat ibadah. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi A DPRD MakassardenganPemkotMakassar, UD Padi Mas, dan aparat kepolisian, perwakilan warga, Miskin Anis, mendesak Dewan segera menindak lanjuti temuan pabrik miras tersebut dengan melakukan penutupan.

Menurutnya,kehadiran UD Padi Mas tersebut sangat meresahkan warga karena memproduksi miras. ”Letaknya dekat dari sekolah dan tempat ibadah, ini harus jadi pertimbangan.Dan kami seluruh warga sepakat agar pabrik miras itu ditutup,” kata Miskin Anis,kemarin. Menanggapi desakan tersebut, Komisi A menyatakan akan kembali melakukan pertemuan dengan seluruh pihak terkait sebelum rekomendasi terkait keberadaan pabrik miras tersebut.Namun, pada intinya, Dewan menyatakan tidak setuju dengan adanya pabrik miras di tengah pemukiman.

“Kami akan rapat lagi dengan menghadirkan semua pihak terkait sebelum mengambil keputusan. Tapi intinya kami semua di Komisi A tidak setuju ada pabrik miras ditengah pemukiman warga,” tegas Ketua Komisi A Rahman Pina. Anggota Komisi A lainnya Asriady Samad menyebutkan, masih ada celah bagi Pemkot dan DPRD untuk mempersoalkan keberadaan pabrik miras di kawasan Tamangappa tersebut, diantaranya letak yang dekat dengan tempat ibadah dan sekolah. Sementara itu, Kapolsek Manggala Kompol D. Lindang menghimbau agar masyarakat bisa menjaga kawasan disekitar pabrik miras itu tetap kondusif.

Dia berharap agar warga tetap bersabar dan menunggu hasil keputusan yang akan dikeluarkan DPRD dan Pemkot paling lambat pekan depan. Terpisah, owner UD Padi Mas, Cery Tanijaya menyatakan, pabriknya mengantongi izin pabrik miras yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian. Cery juga memperlihatkan persyaratan formal pendirian pabrik miras seperti izin dari Pemkot. Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Andi Mattentuang menjelaskan, pada dasarnya izin pendirian pabrik miras secara nasional sudah dihentikan sejak 2000 lalu, dengan tujuan agar jumlah peredaran alkohol terkendali. Sedangkan UD Padi Mas dapat beroperasi karena bentuknya adalah perpanjangan izin.

“UD Padi Mas ini bukan izin baru, tetapi perpanjangan dan kami rekomendasikan izin perpanjangannya karena ada rekomendasi lurah dan camat setempat. Intinya prosesnya perizinannya sesuai aturan dan izinnya untuk miras golongan B,”ungkapnya di DPRD Makassar, kemarin. KTU Dinas Perizinan Muh Saad mengakui jika Kantor Perizinan telah mengeluarkan izin produksi miras dengan label izin UD Padi Mas,yakni izin produksi miras tipe B dengan tingkat alkohol 18%. Izin diberikan untuk tenggat waktu dari 19 April 2011 hingga 19 April 2016. “Izin kami keluarkan karena ada rekomendasi dari instansi terkait,”terangnya.
 
 
Copyright © 2015 Catatan Online All Rights Reserved
Hari Agustomo Nugroho