Jumat, 12 Juli 2013

cyberattack

Di masa depan, perampok tidak akan merampok bank menggunakan senjata dan masker lagi, tetapi mereka bersembunyi di balik layar komputer untuk melakukan serangan maya dan menutupi jejak digital mereka. Sebagaimana dikutip dari CNN Money, saat ini ada beberapa cara yang dilakukan penjahat untuk melakukan "cyberattack" atau serangan maya. Mereka mampu mencuri sebelum uang ditransfer dari rekening bank.

Vikram Takur, seorang manajer di Symantec Security Response, mengatakan bahwa pencurian online hampir selalu menjadi bagian dari skema kejahatan. Meskipun kadang-kadang dilakukan seorang pelaku tunggal, kebanyakan kejahatan maya dibagi dalam beberapa langkah yang ditangani pemain yang berbeda. Kebanyakan pencurian rekening bank dimulai dari pengembang malware yang menjual perangkat lunak berbahaya kepada peretas melalui pasar gelap.

Melalui pasar-pasar gelap di Internet, seorang peretas jahat dapat membeli perangkat-perangkat untuk mencuri kredensial rekening bank, layanan untuk menjatuhkan (mematikan) situs web, atau virus untuk menginfeksi komputer. Mempekerjakan seorang peretas sangat mudah karena malware saat ini membutuhkan mereka untuk menginfeksi ratusan atau ribuan komputer.

Beberapa layanan bahkan cukup murah. Misalnya, untuk mendapatkan 1 juta alamat email hanya perlu membayar 111 dolar Amerika Serikat. Setelah korban informasi rekening korban telah dikumpulkan, peretas dapat menjual data tersebut kepada seseorang untuk dikemas ulang dan didistribusikan ke pasar gelap.

Tidak semua informasi bernilai sama. Seringkali penjahat mencari kepercayaan dari orang-orang kaya dengan rekening di lembaga keuangan di mana mereka akrab dengan sistem keamanan. "Semua berpengalaman. Penjahat yang pintar akan menjual barang kepada orang lain lalu keluar dari operasi," kata Thakur.

Sampai di sini, belum ada uang yang telah dicuri. Namun, ribuan bahkan jutaan dolar telah siap berpindah tangan. Para penjahat maya yang membeli informasi tentang rekening bank itu dapat menggunakannya untuk mentransfer uang, meskipun hal itu merupakan hal yang berisiko tinggi.

Pada tahap ini, penjahat kriminal dapat menggunakan jaringan transfer internasional, melakukan pembelian online dengan kartu kredit curian atau benar-benar ke ATM dengan menggunakan PIN curian dan kartu debit palsu. "Pada tahap ini mereka benar-benar beresiko tertangkap," kata Thakur.

Baca juga: Adab Berdo'a.

Bahasa Internet

Orangtua gagal melindungi anak-anaknya di dunia maya karena tidak mengerti bahasa internet, demikian sebuah organisasi keamanan website memperingatkan. Berdasarkan situs Know The Net, hanya tiga dari 10 orangtua yang memahami istilah di internet seperti LMIRL, frape, YOLO, ASL, POS dan trolling. Situs itu juga meminta orang dewasa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kosakata online.

Survey dari 1.000 orangtua itu mendapati fakta  bahwa istilah yang paling tidak dipahami adalah LMIRL (let's meet in real life/kopi darat), dengan perolehan hanya 8 persen jawaban benar. Temuan ini membuktikan orangtua tidak menyadari anak remajanya berencana bertemu dengan orang asing yang mereka temui di dunia maya.

Yang juga masuk daftar kosakata paling tidak diketahui adalah ASL (age, sex, location/umur, jenis kelamin, lokasi), sementara hanya 28 persen orangtua mengetahui POS (parents over shoulder/orangtua mengawasi). "Orangtua mungkin frustrasi karena bahasa di website berubah begitu cepat, tetapi mereka harus memahami apa yang terjadi sehingga mereka bisa ikut terlibat dan mendukung anak memasuki aspek yang lebih kelabu di dunia maya," kata Direktur Know the Net, Phil Kingsland, dalam laman The Guardian.

Trolling adalah ungkapan yang kebanyakan bisa diidentifikasi orangtua, yakni sekitar 58 persen, sedangkan kurang dari seperempatnya mengerti YOLO (you only live once/kau hanya hidup sekali). Frape berarti menyabotase laman Facebook seseorang ketika mereka membiarkan akunnya ter-log in, sementara ungkapan WTF, LOL dan OMG telah dimengerti orangtua dengan baik.

Ketidaktahuan orangtua juga muncul saat situs tersebut merilis kampanye agar orangtua tetap berhubungan dengan aktivitas online anak.  Caranya, dengan membiasakan diri berbahasa internet, menanyakan langsung kepada anak apa yang mereka rasakan tentang aktivitas internet serta mengecek ungkapan-ungkapan yang tidak familiar di kamus online.

Survey itu juga menunjukkan bahwa orangtua mungkin tidak tahu anak terlibat dalam pengunduhan ilegal. Hal itu dibuktikan dari sekitar 42 persen orangtua tidak memahami istilah "torrenting" yang mengacu unduh ilegal media digital. Sepertiga remaja mengaku telah mengunduh konten ilegal (sekitar 32 persen), 10 persen diantaranya yang berusia 10-12 tahun mengaku telah melakukannya.

Baca juga: Oppo Find 7 Lebih Oke.
 
 
Copyright © 2015 Catatan Online All Rights Reserved
Hari Agustomo Nugroho